Penutupan Penyengat Heritage, Wawako Ariza Dorong Pelestarian Warisan Melayu
Prokompim Tanjungpinang — Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Drs. H. Raja Ariza, M.M., menghadiri penutupan Penyengat Heritage 2026, di Halaman Balai Adat Pulau Penyengat, Sabtu (20/6).
Festival yang mengusung tema Regenerative Lifestyle Tourism tersebut berlangsung selama tiga hari, 19–21 Juni 2026, dengan menghadirkan berbagai kegiatan budaya, perlombaan tradisional, bazar kuliner, hingga aksi pelestarian lingkungan sebagai upaya menjaga warisan budaya Melayu dan mendukung pariwisata berkelanjutan.
Gubernur Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, S.E., M.M., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan pelaksanaan Penyengat Heritage 2026. “Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia, masyarakat Pulau Penyengat, komunitas adat, serta aparat keamanan yang telah bersama-sama menjaga kelancaran dan kesuksesan kegiatan ini,” ucapnya.
Menurutnya, Penyengat Heritage harus terus dipertahankan sebagai agenda budaya yang mampu menjaga nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal Melayu di tengah perkembangan zaman. “Penyengat Heritage diharapkan menjadi benteng pelestarian budaya Melayu, sekaligus ruang untuk mewariskan nilai-nilai sejarah, seni, dan tradisi kepada generasi mendatang,” jelasnya.
Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dalam mengembangkan Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata budaya yang memiliki daya tarik nasional maupun internasional. “Budaya lokal harus mampu dikemas menjadi kekuatan pariwisata yang bernilai tinggi. Karena itu, kami terus bersinergi dengan berbagai pihak untuk mendukung penataan dan pelestarian Pulau Penyengat sebagai kawasan cagar budaya nasional,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Wawako Ariza sekaligus mendampingi Gubernur Kepri meninjau sejumlah rangkaian kegiatan Penyengat Heritage 2026, meliputi Festival Jong, Festival Gasing, Monumen Tugu Bahasa, Kampung Makyong, serta bazar kuliner masyarakat.
Wawako Ariza menilai Penyengat Heritage menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya Melayu sekaligus meningkatkan daya tarik wisata Kota Tanjungpinang. “Penyengat Heritage bukan sekadar festival, tetapi wadah untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Melayu yang menjadi kebanggaan masyarakat Tanjungpinang dan Kepulauan Riau,” ujarnya.
Dikatakannya, keterlibatan masyarakat dalam berbagai rangkaian kegiatan menunjukkan tingginya kepedulian terhadap upaya pelestarian warisan budaya daerah. “Kegiatan ini membuktikan bahwa pelestarian budaya akan semakin kuat ketika pemerintah, komunitas, dan masyarakat bergerak bersama menjaga serta mempromosikan warisan yang kita miliki,” tambahnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan menjadi agenda yang memberikan manfaat bagi masyarakat, baik dari sisi budaya maupun ekonomi. "Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, kita berharap Pulau Penyengat semakin dikenal luas sebagai pusat warisan budaya Melayu yang tetap lestari serta memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Pada puncak kegiatan juga dilakukan penyerahan hadiah Festival Jong dan Festival Gasing Internasional, penampilan seni budaya Melayu, serta penyerahan bibit mangrove untuk mendukung pelestarian lingkungan di Pulau Penyengat.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, festival ini turut melibatkan masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif melalui berbagai kegiatan, seperti Festival Jong, Festival Gasing, Festival Tari, bazar kuliner, serta dukungan terhadap pembangunan Museum dan Monumen Bahasa di Pulau Penyengat.
Penyengat Heritage 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai kawasan warisan budaya Melayu yang memiliki nilai sejarah penting bagi Kepulauan Riau. Melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, komunitas budaya, dan pelaku pariwisata, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong pelestarian budaya sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata daerah secara berkelanjutan.
Protokol dan Komunikasi Pimpinan
Setdako Tanjungpinang