Narasumber MAPABA PMII, Ketua PKK Weni Ingatkan Pentingnya Perlindungan dan Pelaporan Kekerasan
Prokompim Tanjungpinang —Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tanjungpinang, Hj. Yuniarni Pustoko Weni, S.H., hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) yang diselenggarakan oleh Panitia Pelaksana Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tanjungpinang-Bintan, yang dirangkaikan dengan seminar kekerasan seksual, yang digelar di Auditorium Razali Jaya STAIN Sultan Abdurrahman Kepri, Sabtu (2/5).
Dalam paparannya, Ketua PKK Weni menegaskan bahwa kesetaraan gender merupakan fondasi penting dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan seksual, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun masyarakat. Ia menyampaikan bahwa di tengah kemajuan teknologi saat ini, tantangan yang dihadapi justru semakin kompleks, terutama karena menurunnya rasa empati di tengah masyarakat.
“Teknologi semakin maju, namun empati kita jangan sampai justru semakin berkurang. Kekerasan sering kali berawal dari cara pandang atau mindset yang keliru terhadap sesama,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa kekerasan seksual tidak selalu berbentuk fisik, tetapi dapat berupa pelecehan verbal, tekanan psikologis, hingga eksploitasi melalui media digital. Menurutnya, kasus-kasus tersebut kerap tidak dilaporkan karena korban merasa takut, malu, atau mendapat tekanan dari lingkungan sekitar.
Selain itu, ia mendorong generasi muda untuk tidak bersikap diam (silent) ketika melihat atau mengalami tindakan kekerasan seksual, melainkan berani berbicara, melapor, serta memberikan dukungan kepada korban.
“Semua manusia memiliki hak yang sama untuk merasa aman dan dihargai. Tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain. Kesetaraan gender adalah tentang saling menghormati dan menjaga martabat sesama,” tegasnya.
Terakhir, Ia mengajak seluruh mahasiswa untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui proses belajar yang berkelanjutan, sekaligus membangun karakter yang kokoh dengan berlandaskan nilai-nilai moral dan agama, sehingga mampu tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta komitmen dalam membawa perubahan positif di tengah masyarakat.
“Mahasiswa harus mampu mengintegrasikan nilai keagamaan, keilmuan, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat tampil sebagai agen transformasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berani bersikap, peduli terhadap sesama, serta aktif menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan,” tutupnya.
Protokol dan Komunikasi Pimpinan
Setdako Tanjungpinang